Memaknai keikhlasan

 Untuk kesekian kali nya, sindiran itu menampar diriku. Perihal memaknai sebuah keikhlasan.

Aku tidak tau pasti, apakah keikhlasan itu ditanamkan dalam sebuah blanko saat itu.

Sebuah kata sederhana, namun sangat membuatku tergerak untuk menuliskan isi hati. Dalam diri terteguh rasa ingin lepas, namun terikat sebuah garis takdir.

Apakah seharusnya saat itu aku menolaknya? Berkali kali kata itu berbisik dalam pikiranku. Apakah ini adalah jawaban yg tepat dari pertanyaan yg telah lama ku pendam?

Ada sebuah arti yg tidak ku ketahui, ada sebuah janji tanpa kusadari. Harus kuapakan arti itu? Bagaimana cara agar janji dapat kutepati?

Apakah ini benar takdirku? Apakah ini benar jalan yg harus ku telusuri? Bertanya arti hidup hanya bisa kusampaiakan pada yg maha kuasa. 

Harus aku apakan nasib ini agar berjalan sesuai dengan yg ku inginkan.


Popular posts from this blog

Good bye

Ragu

Luka 2.0