Mati Rasa


"Terlahir sebagai manusia yang egois tidaklah salah, namun terlahir sebagai manusia yang dapat merubah pola pikir itu lebih baik dari apapun" -mimma

Satu persatu ku mulai hapus semua kenangan, walau manis, tapi lidahku ini semakin lama semakin mati rasa. Kelak akan ada saatnya lidahku ini akan mencicipi manisnya sebuah sajian. Aku yakin itu.

Hambar lebih baik daripada manis tapi menyakiti indra pengecap. Apa salahnya hidup dengan rasa hambar. Rasa hambar tidakalah salah. Yang salah itu apabila tidak dapat mengubahnya menjadi rasa yang diinginkan. 

Semua hal yang jatuh akan ada saatnya untuk bangkit kembali. Tentunya harus ada usaha. Sama halnya melupakan. Butuh usaha dan waktu. Biarlah waktu yang menentukan. Biarlah waktu yang memutarbalikannya. Biarlan jiwa merasakan ketenangan hidup kembali.

Tetaplah berjuang, walau kau tau kau telah berada di ujung tanduk. Tidak selamanya berdiri di batas ombang ambing akan jatuh. Kau bisa bertahan. Ingatlah, bertahan bukan berarti mengalah. 

Jadilah dirimu sendiri yang mencintai dirimu seutuhnya. Tidak salah menaruh harapan pada manusia. Namun ingatlah, manusia tidak ada yang sempurna. Manusia tentu bisa berkhianat.